Monday, January 26, 2015

Hidup yang Tergesa-gesa

Suatu kali saya berpikir terkadang semua hal begitu cepat berlalu. Belum lama melihat dekorasi Natal di pertokoan kini dekorasi sudah berganti menjadi lampion-lanpion merah yang semarak. Semua toko tampak sudah bersiap menyambut imlek. Masih teringat meriahnya dentuman kembang api tahun baru yang ramai. Tanpa terasa sudah 26 hari pesta tahun baru berlalu, tertinggal seperti sepeda tua yang lamban.
Terkadang saat saya bangun pagi sebelum matahari terbit, saya melamun sebentar, sambil memeriksa hp dan membalas chat yang tadi malam, kemudian tanpa sadar sinar matahari sudah muncul. Saya pun merasa kesiangan. Segera mandi, bersiap dan pergi ke kantor.
Pulang dari kantor ke rumah, matahari sudah tidak ada. Perjalanan pulang ke rumah yang macet menyita waktu. Sampai di rumah tubuh saya sudah enggan diajak berinteraksi. Kelelahan. Lalu tidur. Besok pagi terbangun. Kejadian pun berulang.
Waktu seolah semakin cepat. Kita semua dibuat tergesa-gesa. Tapi secepat apapun yang kita lakukan, selalu ada hal yang terlewat kita lakukan. Selalu ada yang lupa. Selalu ada quality time yang sulit diwujudkan. Saya seperti tak berdaya.
Lelah dan haus. Itu yang saya rasakan. Ada banyak rencana, namun seolah terlalu sedikit waktu. Ingin sekali menemukan tombol slow motion dalam hidup ini. Ketergesa-gesaan membuat saya kehilangan arti hidup. Saya berharap bisa menyerap dan menikmati apa yang saya jalani. Menikmati makanan yang saya makan, menikmati bercerita dengan orang dekat, menikmati sentuhan, mengamati apa yang terlihat. Membuat semua yang dilakukan hidup ini terasa nikmat.
Masih bisakah semuanya kembali terasa nikmat?

Tuesday, October 14, 2014

Enggan Pulang

Malam ini kawasan Braga ramai seperti biasanya. Beberapa kelompok orang berjalan sambil bercerita dengan antusias. Tidak sedikit turis asing yang lalu lalang di sekitar Braga Citywalk. Jalan raya masih mengkilat karena basah habis diguyur hujan deras. Udara dingin malam ini melengkapi nikmatnya Kota Bandung.
Saya baru saja melangkahkan kaki keluar dari Gold's Gym Braga. Keringat masih menitik di dahi saya meski saya sudah membasuh tubuh di ruang ganti. Gymnasium juga dipenuhi orang-orang yang bermimpi memiliki tubuh bak model. Sebagian dari mereka berhasil, sementara sebagian lainnya hanya menjadi member demi memenuhi syarat hidup sehat modern masa kini, memiliki kartu member gym.
Udara yang dingin malam itu membuat beberapa orang terlihat mengenakan jaket tebal. Langit tidak menampakkan bintang. Jalan raya masih dipenuhi kendaraan orang-orang yang berlomba menuju pulang. Jam tangan saya memperlihatkan masih pukul 19.00. Enggan rasanya pulang. Enggan berdiam di rumah. Jika malam ini pulang ke rumah lebih awal, saya berarti memberikan kesempatan pikiran saya dipenuhi macam-macam prasangka dan itu akan membuat saya sesak nafas.
Akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke Starbucks Braga. Kebetulan saya ingat punya voucher mendapat minuman gratis ukuran tall. Saya pun memesan Dark Mocha dan satu slice New York Cheesecake kemudian duduk di salah satu kursi di pojok. Saya mengambil koran Kompas di dekat meja kasir, menyeruput kafein dingin dan mulai membacanya.
Malam ini saya menikmati kesendirian di Starbucks Braga. Membaca koran, dan memperhatikan orang yang lalu lalang membeli kopi. Kemacetan di luar masih berlangsung. Setidaknya malam ini saya bisa mengalihkan pikiran yang kacau ini.

Sunday, October 12, 2014

Sakit dan Pahit

Sekali lagi hidup ini menampar saya dengan keras. Membangunkan saya dari mimpi. Meremukan khayalan. Memupuskan cita dan keinginan.

Semula semua tampak akan kembali berjalan baik. Saya kira semua bisa bisa dimulai kembali dari awal. Saya pun sudah siap menerima kebahagiaan-kebahagiaan baru.

Namun apa yang saya harapkan tidak demikian. Kenyataan tidak berpihak kepada saya. Dalam kurang dari 30 hari, hidup ini terasa seperti menghantam saya bertubi-tubi. Harapan yang sudah saya idamkan bisa tumbuh besar dan rindang, kini tinggal seperti pohon yang rantingnya kering menunggu daun terakhirnya jatuh ke tanah dan mati.

Saya kembali diingatkan, kembali menerima dejavu-dejavu yang berusaha menyampaikan pesan bahwa apa yang saya inginkan dan rencanakan semua bisa lenyap begitu saja. Keinginan saya seolah terlalu rapuh dan mudah diterbangkan angin. Meninggalkan saya dalam ketidakberdayaan.

Pagi ini matahari sebenarnya bersinar hangat. Namun yang saya rasakan hanya dingin yang kering dan terasa sesak seperti memeluk kehampaan. Saya tidak bisa berpikir jernih. Keruh. Tubuh ini seperti zombie yang sedang dipermainkan situasi.

Saya merasa seperti dicekik dan dibuat sulit bernafas. Saya berusaha berteriak kenapa ini bisa menimpa kepada kami? Kenapa Tuhan tega? Kenapa Tuhan membiarkan?

Saya tahu bahwa saya tidak akan mendapat jawaban secara langsung. Saya hanya memaksakan diri untuk menarik nafas dalam-dalam. Berharap saya bisa baik-baik saja. Berharap dia pun akan baik-baik saja. Berharap kami masih bisa bertemu lagi.

Jadi ini rasanya ditinggalkan. Sakit dan pahit sekali rasanya.

Saturday, July 26, 2014

Misi Liburan: Mencoba Resep Masakan


Sop Ikan Tenggiri buatan sendiri. Rasanya ya lumayan, sedikit kurang pedas sih :)

Hai again
Pada suatu hari di Hari Sabtu pagi di akhir bulan Juli 2014. Bulan ini masih bulan puasa dan dua hari ke depan adalah idul Fitri. Hari ini adalah awal dari long weekend saya. Karena selama seminggu ke depan kantor saya libur so this week is gonna (should) be special for me, coz I can do many things which I can't do it before. 
Sejak pagi saya disambut dengan udara Cihanjuang yang dingin. Sinar matahari hingga jam 11 siang ini masih tidak tampak. Langit tidak berwarna biru seperti kemarin. Ah meski mendung tapi weekend saya tetap harus berjalan. Weekend must go on! Sehabis menyeruput Good Day Mochacino favorit saya, pagi tadi saya luangkan waktu bermain dengan Marco dan Mimot. Kedua kucing persia peliharaan yang resmi sudah jadi family member. Setelah puas main sebentar, Mama langsung menagih janji ke saya untuk membantu menggeser barang dan menata ulang dapur. Yeah... makasi lho Mam pagi-pagi sudah mengganggu -,-

Saturday, March 8, 2014

Terjatuh Dan Bangun Lagi...

Terjatuh dan bangun kagi...
Sepintas memang seperti salah satu lirik lagu dangdut. Namun itu yang terjadi pada Hari Senin pagi di awal Bulan Maret. Senin pagi itu saya pergi ke kantor jam 6 pagi. Saya memang suka pergi lebih pagi, selain alasan menghindari macet saya juga menikmati perjalanan santai 30km/jam sambil menghirup udara pagi-pagi bebas asap knalpot. Berharap oksigen murni memenuhi paru-paru, berharap cara itu juga akan menambah awet muda. Hmm... saya becanda untuk soal awet muda itu.

Pagi itu jalanan tidak begitu ramai. Saya menikmati kabut-kabut tipis di area Cihanjuang yang terusir sinar matahari dari balik perbukitan. Udara dingin menyengat jari-jari tangan saya di kemudi motor. Jaket tebal saya seolah berubah jadi kaos tipis. Jam segitu udara masih sangat segar. Saya menikmati perjalanan saya ke kantor tanpa tergesa-gesa. Tanpa ngebut. Sangat santai.
Kemudian..
Gubrak... motor yang ada di depan saya jatuh. 
"Wah kasihan sekali..", begitu pikir saya sambil otomatis mengerem motor saya juga.
Tapi...

GUBRAK!!! 
Motor saya tiba-tiba melintir ke kanan. Motor yang saya kendarai ikut jatuh.
Astaga kenapa saya bisa jatuh tiba-tiba. Saya meringis. Sambil langsung berusaha berdiri. Beberapa motor lainnya di belakang saya berhenti ada juga yang tetap meneruskan perjalanan sambil pelan-pelan mendahului dari sisi kanan.
Saya berusaha berdiri namun lutut kanan saya benar-benar nyeri dan tidak bisa diluruskan. Lutus saya pasti tadi terbentur keras ke aspal. Sandal kaki kanan saya terlepas berada di belakang motor yang masih tergeletak di aspal. Saya mencoba menarik bangun motor saya yang jatuh. Lutut saya tidak kuat. Seorang bapak bermotor di belakang saya akhirnya turun dari motornya.

Saturday, February 22, 2014

Rumah Baru

Tiada tempat lain senyaman rumah sendiri.
Begitu kata orang. Saya setuju dengan hal tersebut.
Setelah menunggu-nunggu untuk mendapat rumah baru setelah rumah saya yang sebelumnya dijual, akhirnya rumah yang dinanti itu selesai dibangun dan telah saya huni saat ini.
Mencari rumah baru di Bandung sebenarnya mudah. Mencari harga rumah yang sesuai dengan kondisi keuangan itu yang sulit. Sejak awal 2013 saya sudah sibuk mencari-cari iklan rumah dijual di koran. Saya juga mulai rajin memperhatikan spanduk dan baliho iklan perumahan. Rata-rata iklan perumahan itu memang pinter menarik minat mata saya untuk membacanya.
Rumah yang saya huni saat ini ternyata bukan berasal dari perburuan saya melihat iklan koran. Saya mengetahui lokasi rumah ini karena mendapat info dari teman kantor saya, Ganeca namanya. Dia bilang kalau dia berminat sekali dengan brosur perumahan yang dia dapat. "Rumahnya siap huni, sudah ada kitchen setnya", begitu katanya. Karena saya penasaran, jadilah saya mendatangi lokasi perumahan tersebut setelah mendapatkan lokasi melalui internet.
Bumi Asri Cihanjuang. Ini taman di tengah komplek perumahan. Ada saung di tengahnya.

Wednesday, January 29, 2014

Tidak Sempurna

Menjadi manusia yang tidak sempurna itu hidupnya lebih indah, menjadi manusia yang terlalu sempurna terkadang hidupnya menyedihkan.
Syukuri apa yang ada, maka hidup ini akan lebih manis rasanya.

Monday, January 27, 2014

Cronut

Ini Cronut. Rasa cinnamon. Adanya di The Harvest.
Semula saya kira ini hanya donut dengan tekstur unik, ternyata dia seperti berlapis-lapis, manis dan renyah. Rasanya enak. Harga 25k.

Kembali

Ada yang bilang bahwa sedekat apapun suatu perjalanan, kita tidak akan pernah sampai ke tujuan jika tidak segera melangkah.

Pepatah itu juga yang memotivasi saya untuk mulai menulis lagi.
Blog ini seperti kasur yang sudah lama tidak ditiduri. Dingin. Seolah tidak ada pemiliknya.

Salah satu alasannya adalah kesulitan mendapatkan internet. Ketika ada jaringan dengan koneksi bagus, kadang malah kehilangan gairah untuk menulis. Saat mampir di cafe ber-wifi, kehadiran bersama dengan teman-teman membuat saya juga tidak nyaman menulis. Menulis itu perlu ketenangan. Perlu sendirian.

Malam ini saya mencoba memulai mengisi Catatan Si Orang Kecil lagi. Kebetulan hari ini pihak developer memasang jaringan telepon dan internet. Wah senang sekali saya waktu mendengar beritanya melalui sms dari Mama. Pulang kerja tadi saya langsung ke rumah, mencoba pesawat telepon dan internetnya. It works.

Rumah baru saya ini kini punya daya pikat saya untuk betah di rumah. Yaitu bisa internetan di kamar, sambil mencaplok beng-beng dan secangkir good day mocca.

Monday, September 2, 2013

posting via email

Hello
Apa kabar? OMG setahun lebih tidak posting. Saya sangat kangen mengisi blog Orang Kecil lagi.

BTW, ini uji coba pertama kali posting via email. Semoga langsung masuk ke dalam blog. Cara ini diajarkan sama Omem teman saya, semoga berhasil.
Tunggu postingan saya lagi ya...

Saturday, October 6, 2012

Kenangan Capung Jarum

Ada yang pernah melihat capung jarum?
Saya pernah menanyakan hal ini kepada keponakan saya. Mereka mengaku belum pernah melihat capung jarum. Jangankan capung jarum. Capung biasa pun mereka paling hanya pernah melihatnya di Animal Planet. Susah sekali menemukan capung jarum di tengah kota. Sudah lama saya juga tidak pernah melihat capung jarum.
Suatu ketika salah seorang teman saya mengganti foto profile di bbm nya dengan gambar capung jarum. Capung jarum di foto tersebut merupakan hasil jepretan kameranya sendiri.

Melihat foto capung jarum membuat saya teringat kepada Emak. Emak adalah nenek saya dari Mama. Emak sudah lama meninggal karena sakit. Saya tahu tentang capung jarum dari Emak. 

Dua puluh lima tahun yang lalu...
Saya masih TK, umur saya enam tahun. Waktu itu sepulang dari sekolah saya merayakan kebebasan saya seperti biasanya. Kedua orang tua saya tidak di rumah, mereka pergi kerja. Saya hanya ditemani Emak. Ini merupakan kebahagiaan buat saya. Emak merupakan partner saya sewaktu kecil. Emak tidak pernah melarang, saya bisa bermain sesuka hati seharian saat orang tua saya tidak ada. Nah pagi itu setelah disuapin makan oleh Emak, saya memulai 'pesta' saya dengan mengeluarkan semua mainan saya dari kardusnya. Emak membiarkan saya bermain sementara beliau memilih duduk di lantai dekat jendela sambil asik menjahit.

Monday, January 23, 2012

Apakah Di Sana Hujan?

Di sini hujan
derai suaranya mengetuk-ngetuk atap rumahku yang berlumut
bau debu basah yang harum menghibur penciumanku

Aku duduk berselonjor di sofa kelabu dekat jendela
angin super sejuk menyusup dari jendela
kusandarkan kepalaku serendah mungkin ke sebuah bantal
hujan bertambah deras

Apakah hujan juga di tempatmu?
sedang apa kamu saat hujan seperti ini?
mungkinkah kangen itu bisa muncul berbarengan?
aku kangen

Ibuku menyediakan secangkir teh manis panas di sini
apakah kau mau teh juga? aku bisa membuatkannya untukmu
berulang-ulang aku mengambil blackberry yang tergeletak di dekatku
mengecek apakah ada pesan masuk darimu
berbunyi saja tidak, lucu sekali kenapa aku berharap ada pesan masuk

Saturday, December 3, 2011

Berbesar Hati

"Memiliki rasa keingingan terhadap sesuatu saja sesungguhnya sudah sangat menyenangkan tanpa harus benar-benar memilikinya"

Sepertinya ada orang yang mencuri waktu ya, saya tidak menyangka bahwa saat ini saya sudah berada di penghujung tahun 2011 di Bulan Desember. Dua musim sudah saya lewati. Kembang api dari berbagai jenis perayaan di sepanjang tahun ini sudah melebur menjadi debu-debu udara. Peristiwa, tragedi, berbagai kejadian seolah melintas begitu saja seperti kereta api ekspres.

Berbagai kejadian baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan yang saya alami mulai dari pertemuan dengan orang-orang baru, perjalanan travelling, keributan kecil maupun besar, rasa kecewa dan sedih yang benar-benar membuat saya terpukul sekali semakin membuat saya memiliki rasa besar hati, atau setidaknya belajar untuk berbesar hati.

Berbesar hati berarti melapangkan hati kita seluas-luasnya dan merelakan peristiwa yang tidak menyenangkan (yang sesungguhnya tidak kita inginkan) namun pada kenyataannya tidak bisa kita hindari itu mendapat tempat di dalam hati kita. Dan kita pun berdamai dengannya.

Thursday, November 17, 2011

Sunday, November 6, 2011

Lelaki dan Gerimis

gambar diambil dari sini

Lelaki itu memandang langit
Kemudian menadahkan telapak tangannya
Titik air berjatuhan di tangannya
Gerimis lagi
Kursi motor matic-nya mulai basah dipenuhi rintik
Setengah panik dia merogoh saku mencari kunci
Dia memasang helm dengan tergesa
Kemudian dia sibuk menarik resleting sweater usangnya yang macet
Sesaat kemudian suara starter motornya terdengar
Lalu dia langsung melaju terburu


Rintik hujan berirama mengetuk-ngetuk helmnya
Air hujan menghias kaca helemnya mengaburkan pandangan
Satu tangannya sibuk mengelap kaca helm
Satunya sibuk mengendalikan stang motor
Sebuah mobil melintas kencang di sisi kanannya
Genangan air di aspal seketika mengguyur dia dan motornya
"Ah sial!" Gerutunya dari balik helm

Gerimis tidak berhenti tidak pula bertambah besar
Gerimis terkikik menikmati rintiknya yang turun bertubi
Gerimis menari mengabaikan payung-payung yang sibuk membuka


Sweater usangnya mulai basah dan terasa menyebalkan di kulitnya
Lelaki itu tetap mengendarai motornya
Segan berteduh dan menunggu gerimis pergi
Tak rela gerimis semakin puas menjebaknya untuk tidak pulang
Jalanan di penuhi orang yang tergopoh membawa payung aneka warna
Aspal yang tadinya kelabu kini basah mengkilap memantulkan refleksi tak beraturan
Udara berbau basah dan harum sejuk
Halte bus dipenuhi wajah cemas yang ingin cepat pulang

Lelaki itu menambah kecepatan motornya
Menerabas angin dan gerimis yang sibuk bercanda meledek
Tak sabar bergegas sampai di rumah
Melepaskan sweater belel yang lembab dan bau
Mengelap air hujan dari badannya 
Kemudian duduk menyeruput coklat panas
Wajah di balik helem itu tersenyum
Sebentar lagi coklat panas akan menghibur tubuhnya dengan kehangatan
 

Saturday, October 22, 2011

Daun Jatuh


Oktober
Sesekali di siang hari matahari menyorot garang dan terik. Silaunya membuat semua orang menyipitkan mata, berusaha mengecilkan pupil mata. Sesekali tumpukan awan bergerombol dan bertumpuk-tumpukan disertai mendung dan gerimis. 

Angin di siang hari berhembus kencang memaksa pohon-pohon menjatuhkan daun-daun coklat kering yang sudah mati. Setiap tiupan angin yang melintas membuat ratusan keping daun kering jatuh bergulung-gulung ke tanah. Suara gemerisik daun kering yang diinjak ditambah jalanan yang dipenuhi sampah daun berwarna kuning kecoklatan, membuat gemas kaki untuk menyepakkan kembali daun-daun di tanah itu ke udara.

Saya menikmati  suasana di Bulan Oktober ini. Daun kering yang berjatuhan dari pohon seolah tidak membuat jalanan tampak kotor, tapi jalanan yang dipenuhi daun gugur tampak ramah bersahabat. 


Sore itu saya sengaja memperlambat laju kecepatan Miyoku saat dedaunan itu jatuh dari pohon. Merasakan dedaunan itu bergemerisik mengenai tubuh saya. Sinar matahari yang lembut menembus celah-celah pohon. 


Oktober yang ramah. Ingin rasanya duduk berdua di sebuah kursi taman. Mengamati dedaunan kering yang jatuh sambil menggenggam hangat tangannya tanpa bicara apa-apa. Ingin segera bersama dengan seseorang sebelum musim hujan yang dingin tiba.

Hidup Yang Tak Bisa Diduga

Gambar dari diambil dari website ini

Pagi ini saya kembali nongkrong di Bober Cafe. Hari Sabtu ini saya libur. Dengan maksud menikmati internet dengan lancar tanpa keluhan koneksi lambat, saya memutuskan ke Bober ini. Sekaligus merapikan beberapa postingan blog sebelumnya.

Cuaca di Bandung hari ini berawan. Matahari bersinar tidak terlalu terik. Saya duduk di salah satu kursi yang teduh dekat dengan colokan listrik. Bober yang buka 24 jam ini pagi hari masih sepi. Hanya ada 3 pengunjung. Beberapa waiter yang biasa membantu melayani tamu tampak duduk-duduk santai menonton tv. 

Saya memesan mix omelette dan secangkir hot chocolate. Sambil menunggu pesanan diantar ke meja saya, saya mulai mengeluarkan Macbook, charger, dan rokok. Saya pun duduk santai bersender di kursi kayu Bober yang keras tidak ada bantalan duduknya. Mirip kursi sekolah saya dulu tapi ini lebih antik. Saya menyulut Marlboro black menthol dan langsung menghembuskan hisapan pertamanya dengan nafas yang panjang. Asap rokok meluncur ke udara di sekitar saya terbang membaur dengan udara lainnya. Lantunan lagu Superman dari Five For Fighting terdengar dari speaker di Bober. 

"I’m only a man
In a funny red sheet
I’m only a man
Looking for a dream..."


Tuesday, October 18, 2011

Ayo Ke Bali

Saya baru saja pulang dari liburan ke Bali. 
Meski ini bukan kunjungan pertama ke Bali tapi kunjungan yang terakhir tersebut menurut saya sangat memuaskan. 
Tidak ada tempat berlibur lain selengkap dan senyaman Bali. Berada di Bali seolah membuat Anda merasa bukan sedang di Indonesia. Anda merasa di negeri lain karena Bali dipenuhi wisatawan asing dari berbagai negara. Kunjungan saya ke Bali kali ini ditemani oleh dua teman saya yang sebelumnya belum pernah mengunjungi Bali, karena itu keduanya sangat exciting dengan Bali, penasaran dengan julukan pulau dewata yang disandang Bali sejak lama.

Ke Bali tidak mahal. Saya akan menceritakan budget trip ke Bali yang baru saja saya jalani. Semoga ini menginspirasi teman-teman untuk bisa menikmati liburan di Bali.
GWK ini salah satu icon Bali, meski belum jadi 100% tetap wajib dikunjungi terutama melihat tarian Bali yang terkenal. Tiket masuk Rp25ribu.

Pindah

suatu pagi di teras Bober Cafe

Hai again all,
siang ini saya meluangkan waktu mampir ke Bober Cafe untuk internetan. Bukan bolos kerja lho, saya sedang cuti. Hari ini sisa cuti terakhir setelah saya pulang dari Bali kemarin. 

Rencana untuk menikmati wifi gratis di Bober Cafe sambil ditemani secangkir hot chocolate ini sudah dari dulu saya rencanakan tapi baru kesampaian hari ini. Cuti memang membuat yang tidak sampai menjadi kesampaian yah :)

Lama tidak mengupdate blog, ternyata banyak yang sudah berubah dan terlewatkan. Mulai dari bertambahnya teman baru sampai kepindahan rumah dari Sukabumi dan mengontrak rumah di Bandung.

Hidup memang penuh kejadian tidak terduga. Terkadang kejadian tak terduga ini seolah menambah berat beban hidup, tapi banyak pula kejadian tak terduga yang membuat saya lebih banyak bersyukur.


Bulan lalu saya baru saja dari Sukabumi ke Bandung. Pindah rumah ke Bandung merupakan sebuah perubahan dan kejadian yang seolah menambah beban hidup baru namun sekaligus memberikan efek kesenangan sendiri bagi saya. 
packingan dus yang mencapai 26 dus

Berat rasanya meninggalkan rumah milik sendiri yang sudah super duper nyaman untuk kemudian pindah ke rumah kontrakan. Walaupun rumah saya di Sukabumi tidak seberapa besar, namun 4 tahun menempati tinggal di sana seolah rumah itu sudah menjadi kekasih yang setia. Rumah mungil itu setia menunggu penghuninya pulang kerja dan menyambut pemiliknya dengan kehangatan ketika pemiliknya pulang kehujanan basah kuyup. Setiap sudut rumah itu selalu membuat saya rindu ketika saya sedang berada di kota lain.


Saya selalu yakin bahwa setiap rumah dan ruangan memiliki bau yang khas. Ketika kita mencium bau khas sebuah rumah, seolah ada flash back yang terlintas di pikiran kita. Flash back berisi kenangan yang pernah terjadi di rumah tersebut.
ini foto berdua sama my mom di carpot rumah sebelum pindah :')

ini foto di teras rumah sebelum pindahan, salah satu favorit corner di rumah mungil saya :)


Sudah sebulan saya meninggalkan rumah itu. Saya merasakan kehilangan. Mungkin kalau rumah mungil itu punya perasaan seperti manusia, dia juga sedih ditinggalkan oleh pemiliknya. Saya sering membayangkan apakah rumah itu juga merindukan saya? Rumah itu kini dikontrak ke orang lain, dan saya pun mengontrak sebuah rumah di Bandung. Rumah di Bandung ini memang lebih luas, tapi tidak sesejuk rumah di Sukabumi.

Wednesday, August 17, 2011

THR

Saya mungkin termasuk orang yang sangat menanti-nantikan datangnya tanggal pembagian THR. Saya sendiri tidak merayakan Lebaran dan tidak ada rencana untuk belanja ini itu di Hari Raya. Tapi Tunjangan Hari Raya alias THR ini sepertinya sudah mendarah daging di dalam bayangan saya bahwa setiap menjelang Lebaran pasti kebagian duit yang besarnya 1 kali gaji tersebut.