Apakah Anda termasuk penggemar bika ambon?
Bika Ambon adalah kue khas yang terkenal di Kota Medan. Memang saat ini tidak perlu jauh-jauh ke Medan untuk menikmati bika ambon. Di sejumlah toko kue sekarang bika ambon mudah didapat.
Tapi ada bika ambon mungil yang rasanya sangat enak. Bika ambon ini dijual di Toko Kue Tujuh Belas, Cianjur. Toko kue ini sudah terkenal sejak lama lho dengan bika ambon mininya. Lokasi Toko Kue Tujuh Belas ada di Jl. Mangunsarkoro Cianjur, gampang koq menemukan lokasinya. Tanya ke orang pasti sudah pada tau.
Kalau mau beli dan mencoba si bika ambon mini ini harus pagi-pagi karena jika sudah siang sedikit, maka Anda akan kecewa karena bika ambonnya keburu diborong orang lain. Kalau mau datang siang hari, maka harus telepon dulu untuk pesan sama si pemilik toko, pasti pesanan kita akan diamankan dari pembeli lainnya.
Bika ambon mini ini dijual dengan kemasan dus kecil. Satu dusnya berisi 25 potong seharga Rp25 ribu per dus, jadi harga satuan si bika mini ini hanya seribu perak.
Bika ambon enak untuk dinikmati sambil minum teh panas atau kopi saat sore-sore. Bika ambon mini ini terasa banget manis dan gurihnya, adonannya juga sangat empuk jadi bisa langsung sekali caplok. Kalau sedang mampir ke Cianjur jangan lupa dicoba ya karena bisa buat oleh-oleh juga.
Kalau mau pesan ini saya kasih nomor teleponnya sekalian:
Toko Kue 17
Jl. Mangunsarkoro 17A
telp.0263-263371
orang kecil dan dunia yang maha besar, berlari dan tertawa di bawah kelip bintang.
Sunday, July 18, 2010
Sunday, July 11, 2010
Kembali ke Sekolah
Tidak terasa sudah hampir setengah bulan Juli dan saya belum menulis apapun di Bulan Juli ini. Waktu serasa pelari sprint yang tidak pernah mengenal lelah. Berusaha mengejar, berusaha meninggalkan kita dan mengubur kita dengan kenangan-kenangan.
Weekend ini merupakan berakhirnya liburan sekolah bagi para siswa-siswi pelajar. Semua orang tua yang anaknya masih bersekolah saat ini pasti tengah sibuk mengurus pendaftaran sekolah baru, pembelian perlengkapan sekolah, tas, buku, alat tulis, sepatu dan seragam tak luput dari daftar wajib beli para ortu.
Semangat tahun ajaran baru ini dapat terlihat dari penuhnya toko buku dipadati pengunjung beserta anak-anak yang sibuk memilih new stuffs nya untuk dipamerkan di sekolah. Di pusat-pusat keramaian tampak pedagang kaki lima menggelar lapak berisi tumpukkan buku tulis berbagai merk dan berbagai cover. Toko-toko seragam sekolah dipadati oleh Ibu-ibu dan anaknya yang sibuk mengukur seragam sekolah yang pas, memilih-milih topi, dasi, dan mencari-cari atribut-atribut pramuka.
Beberapa hari yang lalu tidak sengaja saya mampir ke sebuah toko buku dan alat tulis. Bukan toko buku terkenal bermerk, hanya toko buku biasa di sekitar pasar tradisional dekat kantor saya. Di dalam toko buku sudah dipenuhi anak-anak didampingi orang tuanya membeli kebutuhan sekolah.
Karena antriannya cukup ramai saya akhirnya terpaksa harus sabar menunggu, padahal niat saya hanya membeli pulpen satu box. Sambil sabar menunggu saya memperhatikan percakapan seorang anak dan ibunya di dalam toko.
Ternyata si anak dan ibunya itu sedang berdebat untuk membeli buku tulis. Si anak merengek ingin buku tulis bergambar Naruto, yang ternyata merupakan tokoh kartun favoritnya. Sedangkan si Ibu bersikeras bahwa gambar cover buku tulis itu tidak penting terlebih buku dengan cover gambar Naruto itu harganya lebih mahal.
"Ya kalo milih Naruto nanti Mamah uangnya nggak cukup buat beli yang laen donk, kan belom beli buku pelajaran juga, beli kaos kaki juga..." omel si Ibu ke anaknya yang masih cemberut. "Itu yang Naruto dikasih berapa pasnya?" tanya si Ibu ke pemilik toko.
"Pasnya segitu Bu nggak bisa kurang lagi, udah murah kok," jawab pemilik toko kalem.
"Ampun gusti, belum beli seragam sekolahnya sama buku pelajarannya..." keluh si Ibu sedih.
Itu sepenggal percakapan yang bisa saya dengarkan selama saya di toko. Tak lama setelah selesai membayar saya pun pergi meninggalkan toko, entah bagaimana kelanjutan dialog antara ibu, anak dan pemilik toko tadi.
Sepanjang perjalanan ke kantor saya membayangkan kalau saat ini pasti banyak dialog serupa di seluruh toko buku. Biasanya orang tua yang resah karena banyaknya kebutuhan sekolah yang harus dibeli dan tidak sebanding dengan dana yang tersedia.
Saya pun pernah mengalami hal demikian sewaktu saya lulus SD dan masuk ke SMP. Karena merasa lulus sekolah, saya menuntut mendapat fasilitas tas baru, sepatu baru, dan buku tulis baru ke orang tua saya. Walaupun saat itu tas dan sepatu saya masih baik-baik saja untuk dipergunakan.
Saat ini saya jadi diingatkan sulitnya menjadi orang tua dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Buku tulis hanyalah salah satu keperluan standar. Seorang siswa di tahun ajaran baru masih harus membeli buku-buku pelajaran sekolah, seragam baru, peralatan tulis, belum lagi membayar kegiatan ekskul, praktikum, dan berbagai biaya-biaya yang akan ditagihkan selama berjalannya proses belajar di sekolah.
Semua masa-masa itu memang sudah saya lewati. Tapi bagi saya semua beban yang dirasakan orang tua murid selalu terulang setiap tahunnya dimana mereka mengeluhkan mahalnya modal yang diperlukan untuk bersekolah. Sekolah semakin lama menjadi komersil seperti sebuah mall raksasa yang siap menguras uang pengunjungnya. Sekolah makin menuntut muridnya untuk cerdas dalam menyerap pelajaran dan menuntut orang tua murid untuk semakin susah payah menyekolahkan anaknya.
Weekend ini merupakan berakhirnya liburan sekolah bagi para siswa-siswi pelajar. Semua orang tua yang anaknya masih bersekolah saat ini pasti tengah sibuk mengurus pendaftaran sekolah baru, pembelian perlengkapan sekolah, tas, buku, alat tulis, sepatu dan seragam tak luput dari daftar wajib beli para ortu.
Semangat tahun ajaran baru ini dapat terlihat dari penuhnya toko buku dipadati pengunjung beserta anak-anak yang sibuk memilih new stuffs nya untuk dipamerkan di sekolah. Di pusat-pusat keramaian tampak pedagang kaki lima menggelar lapak berisi tumpukkan buku tulis berbagai merk dan berbagai cover. Toko-toko seragam sekolah dipadati oleh Ibu-ibu dan anaknya yang sibuk mengukur seragam sekolah yang pas, memilih-milih topi, dasi, dan mencari-cari atribut-atribut pramuka.
Beberapa hari yang lalu tidak sengaja saya mampir ke sebuah toko buku dan alat tulis. Bukan toko buku terkenal bermerk, hanya toko buku biasa di sekitar pasar tradisional dekat kantor saya. Di dalam toko buku sudah dipenuhi anak-anak didampingi orang tuanya membeli kebutuhan sekolah.
Karena antriannya cukup ramai saya akhirnya terpaksa harus sabar menunggu, padahal niat saya hanya membeli pulpen satu box. Sambil sabar menunggu saya memperhatikan percakapan seorang anak dan ibunya di dalam toko.
Ternyata si anak dan ibunya itu sedang berdebat untuk membeli buku tulis. Si anak merengek ingin buku tulis bergambar Naruto, yang ternyata merupakan tokoh kartun favoritnya. Sedangkan si Ibu bersikeras bahwa gambar cover buku tulis itu tidak penting terlebih buku dengan cover gambar Naruto itu harganya lebih mahal.
"Ya kalo milih Naruto nanti Mamah uangnya nggak cukup buat beli yang laen donk, kan belom beli buku pelajaran juga, beli kaos kaki juga..." omel si Ibu ke anaknya yang masih cemberut. "Itu yang Naruto dikasih berapa pasnya?" tanya si Ibu ke pemilik toko.
"Pasnya segitu Bu nggak bisa kurang lagi, udah murah kok," jawab pemilik toko kalem.
"Ampun gusti, belum beli seragam sekolahnya sama buku pelajarannya..." keluh si Ibu sedih.
Itu sepenggal percakapan yang bisa saya dengarkan selama saya di toko. Tak lama setelah selesai membayar saya pun pergi meninggalkan toko, entah bagaimana kelanjutan dialog antara ibu, anak dan pemilik toko tadi.
Sepanjang perjalanan ke kantor saya membayangkan kalau saat ini pasti banyak dialog serupa di seluruh toko buku. Biasanya orang tua yang resah karena banyaknya kebutuhan sekolah yang harus dibeli dan tidak sebanding dengan dana yang tersedia.
Saya pun pernah mengalami hal demikian sewaktu saya lulus SD dan masuk ke SMP. Karena merasa lulus sekolah, saya menuntut mendapat fasilitas tas baru, sepatu baru, dan buku tulis baru ke orang tua saya. Walaupun saat itu tas dan sepatu saya masih baik-baik saja untuk dipergunakan.
Saat ini saya jadi diingatkan sulitnya menjadi orang tua dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya. Buku tulis hanyalah salah satu keperluan standar. Seorang siswa di tahun ajaran baru masih harus membeli buku-buku pelajaran sekolah, seragam baru, peralatan tulis, belum lagi membayar kegiatan ekskul, praktikum, dan berbagai biaya-biaya yang akan ditagihkan selama berjalannya proses belajar di sekolah.
Semua masa-masa itu memang sudah saya lewati. Tapi bagi saya semua beban yang dirasakan orang tua murid selalu terulang setiap tahunnya dimana mereka mengeluhkan mahalnya modal yang diperlukan untuk bersekolah. Sekolah semakin lama menjadi komersil seperti sebuah mall raksasa yang siap menguras uang pengunjungnya. Sekolah makin menuntut muridnya untuk cerdas dalam menyerap pelajaran dan menuntut orang tua murid untuk semakin susah payah menyekolahkan anaknya.
untuk para keponakanku yang masih bersekolah : Garda, Givanka, Gradi dan Hera
Saturday, July 3, 2010
Me is Anti-ECLIPSE :) From my FB Status
Dioznardo Rahmanto ECLIPSE besok tayang premiere, silahkan booking tiket buat para penggemar Edward si Pucet Pasi. dan jangan tanya-tanya saya tentang Eclipse lagi, jangan ngajak saya nonton juga #SekianTerimaKasih
June 29 at 9:34pm Friends Only · · ·Thursday, June 24, 2010
Toy Story 3
Saya baru saja nonton Toy Story 3 kemarin malam.
Film animasi karya Disney.Pixar memang nggak pernah luput dari daftar "film wajib" saya.
Toy Story 3 kali ini mengisahkan Andy sang pemilik mainan yang sudah beranjak dewasa (17 tahun). Seiring Andy yang semakin dewasa dan mau masuk kuliah, Woody dan teman-teman mainan lainnya mulai dibiarkan Andy di dalam peti. Andy mulai jarang menyentuh mainannya lagi. Disinilah para mainan (kecuali Woody) mulai berencana untuk move on alias mencari tempat baru yang lebih baik di mana mereka berharap akan menemukan majikan yang lebih menyayangi mainannya dan banyak menghabiskan waktu dengan mainannya. Terlebih lagi suatu ketidaksengajaan menyebabkan mainan-mainan tersebut terbuang ke tempat sampah. Mereka mulai merasa Andy tidak membutuhkan mainan lagi. Woody tidak setuju dan berupaya meyakinkan teman-temannya bahwa para mainan haruslah selalu memberikan dukungan kepada Andy apapun yang terjadi. Namun teman-teman Woody memilih untuk tinggal di SunnySide yaitu sebuah tempat penitipan anak. Mereka yakin SunnySide akan memberikan kebahagiaan baru karena akan ada banyak mainan dan anak-anak baru yang menyayangi mereka.
Ternyata mereka salah. SunnySide merupakan mimpi buruk. Di sana mereka bertemu mainan boneka beruang bernama Lotso yang kejam walaupun awalnya berpura-pura sangat baik. Ditambah lagi anak-anak yang datang lebih sering menyiksa mainan ketimbang meyayanginya.
Pada akhir cerita, Woody dan teman-temannya berhasil kembali ke rumah Andy. Namun karena Andy sudah dewasa dan mau pergi kuliah, Andy harus menyumbangkan mainannya. Andy menemukan seorang anak kecil yang sangat sayang dengan mainannya. Disinilah klimaks maksud yang ingin disampaikan Disney.Pixar, Andy akhirnya harus berpisah dengan mainan-mainan yang telah belasan tahun menemaninya sewaktu kecil. Andy ternyata sangat menyayangi mainannya dan berpesan supaya si anak kecil mau merawat mereka semua. Disney.Pixar ingin berpesan kepada penontonnya bahwa mainan yang tidak bernyawa tetap harus dipelihara dengan baik dan tidak dilupakan saat mainan baru datang atau saat usia seorang anak beranjak dewasa. Mainan tetap akan selalu ada untuk menghibur dan menjadi teman bagi semua anak-anak.
Untuk kesekian kalinya film Disney.Pixar selalu membuat mata saya berkaca-kaca.
You've got a friend in me.
Film animasi karya Disney.Pixar memang nggak pernah luput dari daftar "film wajib" saya.
Toy Story 3 kali ini mengisahkan Andy sang pemilik mainan yang sudah beranjak dewasa (17 tahun). Seiring Andy yang semakin dewasa dan mau masuk kuliah, Woody dan teman-teman mainan lainnya mulai dibiarkan Andy di dalam peti. Andy mulai jarang menyentuh mainannya lagi. Disinilah para mainan (kecuali Woody) mulai berencana untuk move on alias mencari tempat baru yang lebih baik di mana mereka berharap akan menemukan majikan yang lebih menyayangi mainannya dan banyak menghabiskan waktu dengan mainannya. Terlebih lagi suatu ketidaksengajaan menyebabkan mainan-mainan tersebut terbuang ke tempat sampah. Mereka mulai merasa Andy tidak membutuhkan mainan lagi. Woody tidak setuju dan berupaya meyakinkan teman-temannya bahwa para mainan haruslah selalu memberikan dukungan kepada Andy apapun yang terjadi. Namun teman-teman Woody memilih untuk tinggal di SunnySide yaitu sebuah tempat penitipan anak. Mereka yakin SunnySide akan memberikan kebahagiaan baru karena akan ada banyak mainan dan anak-anak baru yang menyayangi mereka.
Ternyata mereka salah. SunnySide merupakan mimpi buruk. Di sana mereka bertemu mainan boneka beruang bernama Lotso yang kejam walaupun awalnya berpura-pura sangat baik. Ditambah lagi anak-anak yang datang lebih sering menyiksa mainan ketimbang meyayanginya.
Pada akhir cerita, Woody dan teman-temannya berhasil kembali ke rumah Andy. Namun karena Andy sudah dewasa dan mau pergi kuliah, Andy harus menyumbangkan mainannya. Andy menemukan seorang anak kecil yang sangat sayang dengan mainannya. Disinilah klimaks maksud yang ingin disampaikan Disney.Pixar, Andy akhirnya harus berpisah dengan mainan-mainan yang telah belasan tahun menemaninya sewaktu kecil. Andy ternyata sangat menyayangi mainannya dan berpesan supaya si anak kecil mau merawat mereka semua. Disney.Pixar ingin berpesan kepada penontonnya bahwa mainan yang tidak bernyawa tetap harus dipelihara dengan baik dan tidak dilupakan saat mainan baru datang atau saat usia seorang anak beranjak dewasa. Mainan tetap akan selalu ada untuk menghibur dan menjadi teman bagi semua anak-anak.
Untuk kesekian kalinya film Disney.Pixar selalu membuat mata saya berkaca-kaca.
You've got a friend in me.
Selamat Jalan Ibu Listiana Srisanti, Ibu Harry Potter Indonesia
Berita duka itu datang tadi pagi saat saya iseng-iseng mengecek twitter setibanya di kantor. Seorang teman menyebutkan bahwa Sang Penerjemah terhebat yang saya tahu telah berpulang akibat kanker paru stadium 4 yang sudah dideritanya sejak tahun 2006 yaitu saat beliau mengerjakan terjemahan buku kelima Harry Potter ke dalam Bahasa Indonesia. Hashtag #RIPListianaSrisanti pun bermunculan di twitter.
Yup beliau yang menerjemahkan ketujuh seri Saga Harpot. Gaya bahasanya dan permainan kata yang beliau tulis seolah menjadikan Harry Potter edisi Indonesia terasa begitu istimewa dan mampu membuat pembacanya menikmati maksud dan alur kisah yang diinginkan sang penulis asli, J.K Rowling.
Saya pun teringat dengan artikel yang pernah saya baca di majalah bulanan Intisari yang pernah menulis profil beliau. Ibu Listiana sangat pandai memainkan irama kata seperti ; Vakansi dengan Vampir, Jampi Jenaka, Myrtle Merana, dan juga menamai Cermin Tarsah dari tulisan aslinya, Erised Mirror. Waktu itu beliau diceritakan sempat bingung mencari arti kata erised, tapi ternyata erised harus dibaca terbalik menjadi desire. Karena itu Ibu Listiana menerjemahkan erised mirror menjadi Cermin Tarsah (Hasrat). Brilian!
Banyak tweet yang mengungkapkan kekaguman terhadap beliau karena telah menyelesaikan terjemahan Harry Potter ketujuh hanya dalam 5 minggu disela-sela jadwal kemoterapi beliau mengobati kanker. Ada juga yang mengatakan bahwa kanker tersebut telah diderita sejak menerjemahkan Buku Harpot kelima. Semua ucapan belasungkawa umumnya berasal dari pembaca Harpot di tanah air dan beberapa diantaranya adalah rekan sesama pengarang dan penerjemah di Gramedia Group.
Selamat jalan Ibu Listiana, tanpa terjemahan Anda Harry Potter hanyalah buku yang terasa begitu asing.
Yup beliau yang menerjemahkan ketujuh seri Saga Harpot. Gaya bahasanya dan permainan kata yang beliau tulis seolah menjadikan Harry Potter edisi Indonesia terasa begitu istimewa dan mampu membuat pembacanya menikmati maksud dan alur kisah yang diinginkan sang penulis asli, J.K Rowling.
Saya pun teringat dengan artikel yang pernah saya baca di majalah bulanan Intisari yang pernah menulis profil beliau. Ibu Listiana sangat pandai memainkan irama kata seperti ; Vakansi dengan Vampir, Jampi Jenaka, Myrtle Merana, dan juga menamai Cermin Tarsah dari tulisan aslinya, Erised Mirror. Waktu itu beliau diceritakan sempat bingung mencari arti kata erised, tapi ternyata erised harus dibaca terbalik menjadi desire. Karena itu Ibu Listiana menerjemahkan erised mirror menjadi Cermin Tarsah (Hasrat). Brilian!
Banyak tweet yang mengungkapkan kekaguman terhadap beliau karena telah menyelesaikan terjemahan Harry Potter ketujuh hanya dalam 5 minggu disela-sela jadwal kemoterapi beliau mengobati kanker. Ada juga yang mengatakan bahwa kanker tersebut telah diderita sejak menerjemahkan Buku Harpot kelima. Semua ucapan belasungkawa umumnya berasal dari pembaca Harpot di tanah air dan beberapa diantaranya adalah rekan sesama pengarang dan penerjemah di Gramedia Group.
Selamat jalan Ibu Listiana, tanpa terjemahan Anda Harry Potter hanyalah buku yang terasa begitu asing.
Subscribe to:
Posts (Atom)





Galak bener pak!!
Bis mkn dracula ya?!
i can't stand to hear those girls were screaming each time they saw Edward+Jacob in the movie..
Tanah Air Beta is much better than Eclipse.
eh inge, mereka screaming liat gue biasanya karena gue bawa makanan doank. kalo ga bawa apa-apa biasanya gue dicuekin :p
Sama dioz, aq jg kurang suka film twilight, boring, jd males jg nntn new moon n eclipse, mending nntn karate kid, hihi...