Ada yang bilang bahwa sedekat apapun suatu perjalanan, kita tidak akan pernah sampai ke tujuan jika tidak segera melangkah.
Pepatah itu juga yang memotivasi saya untuk mulai menulis lagi.
Blog ini seperti kasur yang sudah lama tidak ditiduri. Dingin. Seolah tidak ada pemiliknya.
Salah satu alasannya adalah kesulitan mendapatkan internet. Ketika ada jaringan dengan koneksi bagus, kadang malah kehilangan gairah untuk menulis. Saat mampir di cafe ber-wifi, kehadiran bersama dengan teman-teman membuat saya juga tidak nyaman menulis. Menulis itu perlu ketenangan. Perlu sendirian.
Malam ini saya mencoba memulai mengisi Catatan Si Orang Kecil lagi. Kebetulan hari ini pihak developer memasang jaringan telepon dan internet. Wah senang sekali saya waktu mendengar beritanya melalui sms dari Mama. Pulang kerja tadi saya langsung ke rumah, mencoba pesawat telepon dan internetnya. It works.
Rumah baru saya ini kini punya daya pikat saya untuk betah di rumah. Yaitu bisa internetan di kamar, sambil mencaplok beng-beng dan secangkir good day mocca.
orang kecil dan dunia yang maha besar, berlari dan tertawa di bawah kelip bintang.
Monday, January 27, 2014
Monday, September 2, 2013
posting via email
Hello
Apa kabar? OMG setahun lebih tidak posting. Saya sangat kangen mengisi blog Orang Kecil lagi.
BTW, ini uji coba pertama kali posting via email. Semoga langsung masuk ke dalam blog. Cara ini diajarkan sama Omem teman saya, semoga berhasil.
Tunggu postingan saya lagi ya...
Saturday, October 6, 2012
Kenangan Capung Jarum
Ada yang pernah melihat capung jarum?
Saya pernah menanyakan hal ini kepada keponakan saya. Mereka mengaku belum pernah melihat capung jarum. Jangankan capung jarum. Capung biasa pun mereka paling hanya pernah melihatnya di Animal Planet. Susah sekali menemukan capung jarum di tengah kota. Sudah lama saya juga tidak pernah melihat capung jarum.
Suatu ketika salah seorang teman saya mengganti foto profile di bbm nya dengan gambar capung jarum. Capung jarum di foto tersebut merupakan hasil jepretan kameranya sendiri.
Melihat foto capung jarum membuat saya teringat kepada Emak. Emak adalah nenek saya dari Mama. Emak sudah lama meninggal karena sakit. Saya tahu tentang capung jarum dari Emak.
Dua puluh lima tahun yang lalu...
Saya masih TK, umur saya enam tahun. Waktu itu sepulang dari sekolah saya merayakan kebebasan saya seperti biasanya. Kedua orang tua saya tidak di rumah, mereka pergi kerja. Saya hanya ditemani Emak. Ini merupakan kebahagiaan buat saya. Emak merupakan partner saya sewaktu kecil. Emak tidak pernah melarang, saya bisa bermain sesuka hati seharian saat orang tua saya tidak ada. Nah pagi itu setelah disuapin makan oleh Emak, saya memulai 'pesta' saya dengan mengeluarkan semua mainan saya dari kardusnya. Emak membiarkan saya bermain sementara beliau memilih duduk di lantai dekat jendela sambil asik menjahit.
Saya pernah menanyakan hal ini kepada keponakan saya. Mereka mengaku belum pernah melihat capung jarum. Jangankan capung jarum. Capung biasa pun mereka paling hanya pernah melihatnya di Animal Planet. Susah sekali menemukan capung jarum di tengah kota. Sudah lama saya juga tidak pernah melihat capung jarum.
Suatu ketika salah seorang teman saya mengganti foto profile di bbm nya dengan gambar capung jarum. Capung jarum di foto tersebut merupakan hasil jepretan kameranya sendiri.
Melihat foto capung jarum membuat saya teringat kepada Emak. Emak adalah nenek saya dari Mama. Emak sudah lama meninggal karena sakit. Saya tahu tentang capung jarum dari Emak.
Dua puluh lima tahun yang lalu...
Saya masih TK, umur saya enam tahun. Waktu itu sepulang dari sekolah saya merayakan kebebasan saya seperti biasanya. Kedua orang tua saya tidak di rumah, mereka pergi kerja. Saya hanya ditemani Emak. Ini merupakan kebahagiaan buat saya. Emak merupakan partner saya sewaktu kecil. Emak tidak pernah melarang, saya bisa bermain sesuka hati seharian saat orang tua saya tidak ada. Nah pagi itu setelah disuapin makan oleh Emak, saya memulai 'pesta' saya dengan mengeluarkan semua mainan saya dari kardusnya. Emak membiarkan saya bermain sementara beliau memilih duduk di lantai dekat jendela sambil asik menjahit.
Monday, January 23, 2012
Apakah Di Sana Hujan?
Di sini hujan
derai suaranya mengetuk-ngetuk atap rumahku yang berlumut
bau debu basah yang harum menghibur penciumanku
Aku duduk berselonjor di sofa kelabu dekat jendela
angin super sejuk menyusup dari jendela
kusandarkan kepalaku serendah mungkin ke sebuah bantal
hujan bertambah deras
Apakah hujan juga di tempatmu?
sedang apa kamu saat hujan seperti ini?
mungkinkah kangen itu bisa muncul berbarengan?
aku kangen
Ibuku menyediakan secangkir teh manis panas di sini
apakah kau mau teh juga? aku bisa membuatkannya untukmu
berulang-ulang aku mengambil blackberry yang tergeletak di dekatku
mengecek apakah ada pesan masuk darimu
berbunyi saja tidak, lucu sekali kenapa aku berharap ada pesan masuk
derai suaranya mengetuk-ngetuk atap rumahku yang berlumut
bau debu basah yang harum menghibur penciumanku
Aku duduk berselonjor di sofa kelabu dekat jendela
angin super sejuk menyusup dari jendela
kusandarkan kepalaku serendah mungkin ke sebuah bantal
hujan bertambah deras
Apakah hujan juga di tempatmu?
sedang apa kamu saat hujan seperti ini?
mungkinkah kangen itu bisa muncul berbarengan?
aku kangen
Ibuku menyediakan secangkir teh manis panas di sini
apakah kau mau teh juga? aku bisa membuatkannya untukmu
berulang-ulang aku mengambil blackberry yang tergeletak di dekatku
mengecek apakah ada pesan masuk darimu
berbunyi saja tidak, lucu sekali kenapa aku berharap ada pesan masuk
Saturday, December 3, 2011
Berbesar Hati
| "Memiliki rasa keingingan terhadap sesuatu saja sesungguhnya sudah sangat menyenangkan tanpa harus benar-benar memilikinya" |
Sepertinya ada orang yang mencuri waktu ya, saya tidak menyangka bahwa saat ini saya sudah berada di penghujung tahun 2011 di Bulan Desember. Dua musim sudah saya lewati. Kembang api dari berbagai jenis perayaan di sepanjang tahun ini sudah melebur menjadi debu-debu udara. Peristiwa, tragedi, berbagai kejadian seolah melintas begitu saja seperti kereta api ekspres.
Berbagai kejadian baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan yang saya alami mulai dari pertemuan dengan orang-orang baru, perjalanan travelling, keributan kecil maupun besar, rasa kecewa dan sedih yang benar-benar membuat saya terpukul sekali semakin membuat saya memiliki rasa besar hati, atau setidaknya belajar untuk berbesar hati.
Berbesar hati berarti melapangkan hati kita seluas-luasnya dan merelakan peristiwa yang tidak menyenangkan (yang sesungguhnya tidak kita inginkan) namun pada kenyataannya tidak bisa kita hindari itu mendapat tempat di dalam hati kita. Dan kita pun berdamai dengannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
