Tuesday, March 2, 2010

Merantau ke Krakatau

Pasir putih yang mengkilat
Laut biru jernih yang yang terhampar luas
Menikmati terpaan angin laut mengiring ombak kecil ke pantai
Mentari ikut bahagia berseri ditemani kapas kapas putih bersih

 
Bau laut yang khas
Pasir-pasir yang terselip di jari-jari kaki
Berlari kecil dikejar ombak
Tertawa sambil mencipratkan air ke udara

 
Terasa ringan hidup ini
Lenyap seketika beban di hati
Menghirup udara laut yang hangat
Berlari dan berguling di pantai
Membiarkan baju yang basah
dan celana yang disusupi pasir


Krakatau yang dahsyat
Krakatau yang pemarah
Ada keindahan dibalik murkamu
Ada ketenangan dibalik gelisahmu
Rinduku untuk kembali padamu
Mari merantau ke Krakatau...
(26-28 Februari 2010)

Sunday, January 3, 2010

Awal Mula

Selamat tahun baru 2010...


Masih tanggal 3 Januari, masih segar dan fresh untuk memulai sesuatu yang baru.
Beberapa teman saya sudah siap dengan berbagai komitmen dan tekad yang bulat (atau dibulat-bulatkan) dengan sebutan resolusi tahun 2010.
Ada yang membuat resolusi untuk menabung dan membatasi pengeluaran belanjanya; ada yang berjanji untuk rajin berolah raga membentuk otot dan membasmi lemak; ada yang komitmen untuk menjadi donatur yang rutin dalam kegiatan-kegiatan amal dan sosial; ada yang mau belajar mengemudi mobil; ada yang mau menikah, dan macam-macam rencana lainnya.
Senang rasanya melihat orang-orang begitu semangat membuat berbagai resolusi dan komitmen-komitmen spektakuler.
Lalu apa resolusi saya? Saya sama sekali tidak membuat resolusi apa-apa untuk tahun ini. Bukan berarti saya tidak semangat untuk menyambut tahun 2010 ini lho. Tapi saya memang sedang kehilangan ide kreatif untuk membuat resolusi. Menurut saya tahun ini banyak yang ingin saya capai. Namun karena saking banyaknya mungkin lebih baik tidak menargetkannya dan menjadikannya sebagai resolusi. Menjadikannya target hanya akan membuat saya fokus untuk mencapai hal-hal yang telah saya targetkan tadi. Padahal sebaiknya saya seyogyanya tidak memberi batasan pada hal-hal lain (non-targeted stuffs) yang juga sebaiknya saya capai di tahun ini.
Saya memandang tahun-tahun hidup saya dengan luapan rasa syukur yang luar biasa kepada Pencipta yang sudah begitu baik mencukupkan kebutuhan saya. Saya merasa tidak perlu meminta pun Sang Khalik sudah memberikannya dengan begitu banyak hal yang tidak saya duga. Karena itu saya lebih baik berserah kepada Dia karena dengan begitu saya tidak terbeban dengan target sasaran hidup yang akan membuat batin saya lelah. Saya percaya bahwa God selalu memberikan yang terbaik. Itu yang menjadikan saya lebih enteng menghadapi tahun ini.
Awal mula cukup hanya dengan sedikit doa dan ucapan syukur. Sisanya kita serahkan kepada-Nya untuk diselesaikan.

Friday, December 18, 2009

STUPID Uji Emisi :(


Beberapa hari yang lalu saya dengar iklan di radio tentang uji emisi kendaraan pribadi. Di iklan tersebut diberitakan bahwa pemda DKI akan mengeluarkan peraturan tentang uji emisi kendaraan pribadi. Semua kendaraan pribadi wajib melakukan uji emisi dan sesudahnya akan diberikan stiker yang mendadakan kendaraan tersebut lolos uji emisi. Nah, bagi kendaraan yang tidak punya stiker lolos uji maka tidak akan diperkenankan melewati area tertentu di Jakarta. Area tertentu tersebut adalah jalan-jalan utama di kota Jakarta such as; Thamrin, Sudirman, Menteng, Senayan, dsb...
Saya setuju dengan tujuan di-kampanye-kannya uji emisi oleh Pemerintah DKI. Pasti dimaksudkan supaya semua kendaraan yang lalu lalang di Jakarta ini tidak memperburuk tingkat pencemaran udara tidak sehat. Coba kalian perhatiin langit Jakarta saat cerah... pasti jarang keliatan tuh (atau nggak pernah terlihat lagi) awan-awan putih bak gula kapas arumanis yang berderet-deret. Yang ada langit Jakarta ini warnanya kelabu. Ini indikator bahwa langit di atas Jakarta dipenuhi sama polusi.
Tapi menurut saya uji emisi yang diselenggarakan ini sepertinya hanya akal-akalan untuk menilang, mendenda, dan sama sekali tidak tepat sasaran. Kenapa? Karena menurut saya semua kendaraan pribadi yang lalu lalang di Jakarta rata-rata kendaraan baru yang pembuangan asap knalpotnya masih bersih. Yang jadi masalah adalah kendaraan umumnya itu lhoo... 
Saya yang setiap hari seliweran di Jakarta sama Miyoku (motor mio gue-red) ngerasain banget disembur knalpot sama kopaja, metromini, bajaj, bus kota dsb. Asap mereka hitaaam pekaat nyembur sana-sini, kalo kena baju putih baju itu pasti jadi keabu-abuan deh. Kebayang kan buat para pengendara motor mukanya bakal hitam-hitam kena asap knalpot kendaraan umum. 
Soooo... bagi saya bukan kendaraan pribadi yang dicari-cari alasan untuk uji emisi en jadi ajang bisnis stiker lulus uji emisi, tapi coba dilihat dulu doonk itu bus kota sama metromini yang udah tidak layak edar diganti dengan kendaraan baru yang lebih nyaman dan pembuangannya bersih. Percuma kan bikin aturan dengan tujuan menciptakan udara Jakarta sehat tapi bus kota cumi-cumi nya masih merajalela di Jakarta.
Haduuuh bikin peraturan dan kebijakan koq nggak sekalian yang efektif gitu lhoo. 
STUPID uji emisi 
:(

Friday, December 11, 2009

29

YUP! Saya sudah 29 tahun. So what?!   :D
Kemarin saya baru saja meng-upgrade usia saya setahun lagi. 
"Nambah tua lo..." itu kata-kata dari beberapa teman yang memberikan ucapan birthday greeting kepada saya.
"Kapan nih nikahnya...?" Pertanyaan yang kedua ini lebih sering berhembus saat saya bertemu dengan teman lama or sanak keluarga jauh. 
Pas ultah saya kemarin pertanyaan pertama dan kedua jadinya bisa digabungkan tuh. Sehingga mereka nanya gini: "Wah udah nambah tua tuh, kapan nikah? Buruan gih.." 
Hehe saya cuma senyum-senyum. Makin menjurus aja ni pertanyaan nya. So kalo udah gitu saya cepat-cepat mengganti topik or pura-pura ga denger. Haha...


Well terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang meluncur kemarin, saya lebih concern dengan mengucap syukur yang luar biasa kepada Bapa di surga. Saya mengingat keadaan saya di 10 tahun yang lalu. Bagi saya tahun-tahun itu seolah tidak ada harapan baik buat saya. Saat itu saya merasa benar-benar tertekan. Tapi sekarang saya merasakan bahwa semua hal itu bisa saya lewati. Karena itu saya merasa sangat bersyukur sama Bapa di Surga yang pemeliharaan dan kasih-Nya sungguh nata dalam hidup saya. Akhir-akhir ini entah kenapa saya juga sering tiba-tiba diingatkan untuk bersaksi bahwa hidup saya selama ini telah banyak diubahkan sama Tuhan Yesus. Sepertinya semua orang harus saya ceritakan bahwa Tuhan itu sungguh baik. Mungkin saya tinggal mencari waktu yang pas. 
Harapan saya di 29... saya bisa berkarir dengan baik. Entah itu di perusahaan yang sekarang atau pun di tempat yang berbeda. Saya juga ingin lebih sering menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga saya, saat ini pun saya seringkali kangen dengan mereka. Sepertinya berkumpul dengan keluarga membuat saya nyaman dan hangat. Mungkin ini tanda saya harus segera punya keluarga ya :)  . Saya juga berharap dihari-hari mendatang saya punya banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat exotic di Indonesia. Mungkin saya akan mencoba bepergian sendirian. Hehe... Doain ya temans. Gbu all.


Sunday, November 15, 2009

Jempol Malang

Jempol yang malang...
Itu yang ingin saya ucapkan pada jari jempol kanan saya yang kemarin siang terjepit pagar besi. 
Musibah ini menimpa jempol secara tidak sengaja (ya.. ga mungkin kan kalo saya sengaja menggencet jempol saya di pagar). Saya kemarin membantu teman menutupkan pagar rumahnya saat teman saya mengeluarkan mobil dari carportnya. Model buka tutup pagar rumahnya seperti kita buka tutup lemari baju yang dua pintu. Saya pegang kedua gagang pintu pagar dengan kedua tangan, lalu mendorong dan menekannya ke arah depan supaya merapat. Di sinilah kesalahan saya. Jempol kanan saya masih melekat di sisi pegangan pintu pagar sebelah kanan. Bersamaan dengan saya mendorong si pagar kuat-kuat supaya menutup, si jempol kanan tergencet dengan pegangan pintu pagar sebelah kiri. 
JREEETT!!!
Si Jempol terhimpit dengan suksesnya pada bagian kuku.
Waktu kejadian itu saya cuma bergumam "Arrrghh!! Sssshiitt!!"
Jempol saya terasa seperti habis ditumbuk palu. Saya langsung melihat ibu jari saya tersebut. Semburat warna merah dan sedikit luka gores tampak menghias si ibu jari yang malang disertai rasa nyeri luar biasa. Saya berusaha menggerakan si jempol. Dia bisa sedikit bergerak tapi seolah mati rasa. Noda kehitaman mulai muncul di balik kuku si jempol. Darah yang tidak keluar mulai mengumpul di balik kuku jempol. 
Ugh.. saya benar-benar merasa bodoh banget karena telah ceroboh menggencet si ibu jari malang di pintu pagar. 
Kini si jempol membengkak. Sejak kemarin saya berusaha mengoleskan minyak tawon, minyak china (pemberian my luv Tiara), bahkan salep bioplacenton buat luka bakar. Sepertinya usaha tersebut tidak banyak membantu. Jempol saya tetap mengeras, dengan semburat warna hitam keunguan. 
Saya sudah merasakan berbagai dampaknya. Saya kesulitan mengancingkan baju, kesulitan sms-an, kesulitan menyikat gigi, kesulitan memegang sendok, kesulitan mengambil dompet dan memasukkan dompet ke dalam saku celana, kesulitan menstarter motor, dsb.
Salah seorang teman saya menyarankan untuk mencabut kuku jempol saya. Saya langsung membuang jauh-jauh ide ini. Yang ada saya malah menjerit kesakitan. 

Jujur saja saking sakitnya saya sampai hampir menangis. Saya hanya ingin si Ibu jari ini cepat pulih. Untuk sementara ini saya meliburkan aktivitas si jempol kanan. Hiks...