Minggu ini pertama kalinya dalam sembilan bulan terakhir saya kembali ke rumah saya di sukabumi. Setelah berbulan-bulan saya menjalani program training dari perusahaan tempat saya bekerja, dipindah-pindah ke Jakarta, Bandung, dan Semarang.
Wah kamar yang sudah lama saya tinggalkan masih sama seperti kondisi sebelum saya pergi. Tumpukan dvd yang mengantri untuk ditonton terserak tidak rapi di atas dvd player. Kalender di dinding dari bonus majalah Cinemags masih menunjukkan tahun 2009. Buku dan majalah tertumpuk sembarang dengan sedikit titik-titik debu. Pasti si Mamah yang rajin membersihkan debunya karena debunya tidak terlalu tebal. Beberapa majalah sepertinya malah belum saya baca sampai habis. Ada jug komik Sentaro yang masih rapi tersegel plastik. Waahh saya benar-benar lupa sama barang-barang itu. Well pemandangan tersebut memberi cukup membuat saya exciting. Weekend ini saya bisa terhibur dengan barang-barang tersebut.
Yeaaa i'm home again. Saya langsung melemparkan badan saya ke atas kasur. Kasur itu terasa begitu dingin karena sudah lama tidak dipakai. Si kasur seperti ingat sama majikannya dan pegas-pegas di dalamnya merespon girang. Aroma kamar yang terdiri dari bau kayu tua dan sedikit bau cat tembok yang sudah lama tidak saya cium. Perasaan nyaman di rumah sendiri langsung menjalar di tubuh saya. Saya langsung mengganti baju dan melempar kaos kaki ke sudut kamar. Yipee kamarku dan aku rajanya!! :D
orang kecil dan dunia yang maha besar, berlari dan tertawa di bawah kelip bintang.
Sunday, May 2, 2010
Thursday, April 29, 2010
18.45 @Cianjur
Jalan HOS Cokroaminoto. Itu nama jalan lokasi kantor saya yang sekarang. Sudah hari kedua ini saya ngantor di Kota Cianjur.
Tiap hari juga saya harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 25 Km menuju rumah saya di Sukabumi. Tadinya saya membayangkan akan menggunakan motor saja untuk menempuh Sukabumi-Cianjur-Sukabumi, tapi pengalaman kemarin saya naik motor membuat saya urung. Perjalanan pulang dari Cianjur menuju Sukabumi sangat riskan. Jalanan yang tidak mulus dan berlubang, bus besar yang kebut-kebutan serta barisan truk-truk pasir yang harus saya hadapi nantinya membuat ciut hati saya untuk menaiki Miyoku.
Akhirnya hari ini saya putuskan pulang pergi menggunakan bus. Pintar!
Sore itu Cianjur baru saja diguyur hujan deras. Saat saya melangkah keluar kantor hendak pulang waktu sudah menunjukkan jam 18.45. Suasana di sekitar kantor yang siang tadi ramai dilalui orang seketika sepi. Mungkin karena hujan dan orang enggan keluar rumah. Sesekali lewat pengendara motor dan angkot. Cahaya yang menerangi jalan hanya berasal dari lampu-lampu jalan berwarna kuning suram. Aspal yang masih basah karena hujan memantulkan sinar suram sang lampu.
Sepanjang trotoar masih ada beberapa tukang roti kaki lima yang berjualan sambil dipayungi terpal biru tua. Saya menyeberang jalanan sepi itu dan menunggu angkot yang membawa saya menuju pangkalan bis tujuan Sukabumi. Meski hujan sudah berhenti namun saya masih merasakan rambut saya dijatuhi titik air kecil dari langit. Semoga tidak turun hujan lagi, doa saya dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian sebuah angkot merah datang dan langsung saya naiki. Angkotnya juga sepi. Hanya ada satu penumpang bapak-bapak usia paruh baya. Angkot melaju meluncur di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto. Kanan kiri jalan dihuni oleh pertokoan dan bangunan tua. Di setiap perempatan dan tikungan yang dilewati angkot terdapat becak-becak yang menunggu penumpang. Kadang di beberapa sudut ada gerobak yang menjual martabak maupun nasi goreng. Banyak toko yang sudah tutup pada jam segitu. Hujan membuat Cianjur berudara sejuk malam itu. Saya menikmati angin sepoi dari jendela angkot berusaha untuk tidak sampai tertidur. Tak lama saya tiba di pemberhentian pangkalan bus. Lalu melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Sukabumi.
Sepanjang perjalanan saya membayangkan nantinya saya akan sering sekali menggunakan bus-bus ini untuk mengantar pulang pergi bekerja. Semoga saya bisa menjalani semuanya dengan baik, saya bergumul dalam hati berusaha optimis. Tak lama kemudian saya sudah pulas tertidur di dalam bus yang berguncang-guncang seolah menjadi nina bobok buat saya.
Tiap hari juga saya harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 25 Km menuju rumah saya di Sukabumi. Tadinya saya membayangkan akan menggunakan motor saja untuk menempuh Sukabumi-Cianjur-Sukabumi, tapi pengalaman kemarin saya naik motor membuat saya urung. Perjalanan pulang dari Cianjur menuju Sukabumi sangat riskan. Jalanan yang tidak mulus dan berlubang, bus besar yang kebut-kebutan serta barisan truk-truk pasir yang harus saya hadapi nantinya membuat ciut hati saya untuk menaiki Miyoku.
Akhirnya hari ini saya putuskan pulang pergi menggunakan bus. Pintar!
Sore itu Cianjur baru saja diguyur hujan deras. Saat saya melangkah keluar kantor hendak pulang waktu sudah menunjukkan jam 18.45. Suasana di sekitar kantor yang siang tadi ramai dilalui orang seketika sepi. Mungkin karena hujan dan orang enggan keluar rumah. Sesekali lewat pengendara motor dan angkot. Cahaya yang menerangi jalan hanya berasal dari lampu-lampu jalan berwarna kuning suram. Aspal yang masih basah karena hujan memantulkan sinar suram sang lampu.
Sepanjang trotoar masih ada beberapa tukang roti kaki lima yang berjualan sambil dipayungi terpal biru tua. Saya menyeberang jalanan sepi itu dan menunggu angkot yang membawa saya menuju pangkalan bis tujuan Sukabumi. Meski hujan sudah berhenti namun saya masih merasakan rambut saya dijatuhi titik air kecil dari langit. Semoga tidak turun hujan lagi, doa saya dalam hati.
Tidak berapa lama kemudian sebuah angkot merah datang dan langsung saya naiki. Angkotnya juga sepi. Hanya ada satu penumpang bapak-bapak usia paruh baya. Angkot melaju meluncur di sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto. Kanan kiri jalan dihuni oleh pertokoan dan bangunan tua. Di setiap perempatan dan tikungan yang dilewati angkot terdapat becak-becak yang menunggu penumpang. Kadang di beberapa sudut ada gerobak yang menjual martabak maupun nasi goreng. Banyak toko yang sudah tutup pada jam segitu. Hujan membuat Cianjur berudara sejuk malam itu. Saya menikmati angin sepoi dari jendela angkot berusaha untuk tidak sampai tertidur. Tak lama saya tiba di pemberhentian pangkalan bus. Lalu melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Sukabumi.
Sepanjang perjalanan saya membayangkan nantinya saya akan sering sekali menggunakan bus-bus ini untuk mengantar pulang pergi bekerja. Semoga saya bisa menjalani semuanya dengan baik, saya bergumul dalam hati berusaha optimis. Tak lama kemudian saya sudah pulas tertidur di dalam bus yang berguncang-guncang seolah menjadi nina bobok buat saya.
Tuesday, March 2, 2010
Merantau ke Krakatau
Pasir putih yang mengkilat
Laut biru jernih yang yang terhampar luas
Menikmati terpaan angin laut mengiring ombak kecil ke pantai
Mentari ikut bahagia berseri ditemani kapas kapas putih bersih


Laut biru jernih yang yang terhampar luas
Menikmati terpaan angin laut mengiring ombak kecil ke pantai
Mentari ikut bahagia berseri ditemani kapas kapas putih bersih
Bau laut yang khas
Pasir-pasir yang terselip di jari-jari kaki
Berlari kecil dikejar ombak
Tertawa sambil mencipratkan air ke udara
Terasa ringan hidup ini
Lenyap seketika beban di hati
Menghirup udara laut yang hangat
Berlari dan berguling di pantai
Membiarkan baju yang basah
dan celana yang disusupi pasir
Krakatau yang dahsyat
Krakatau yang pemarah
Ada keindahan dibalik murkamu
Ada ketenangan dibalik gelisahmu
Rinduku untuk kembali padamu
Mari merantau ke Krakatau...
(26-28 Februari 2010)
Sunday, January 3, 2010
Awal Mula
Selamat tahun baru 2010...
Masih tanggal 3 Januari, masih segar dan fresh untuk memulai sesuatu yang baru.
Beberapa teman saya sudah siap dengan berbagai komitmen dan tekad yang bulat (atau dibulat-bulatkan) dengan sebutan resolusi tahun 2010.
Ada yang membuat resolusi untuk menabung dan membatasi pengeluaran belanjanya; ada yang berjanji untuk rajin berolah raga membentuk otot dan membasmi lemak; ada yang komitmen untuk menjadi donatur yang rutin dalam kegiatan-kegiatan amal dan sosial; ada yang mau belajar mengemudi mobil; ada yang mau menikah, dan macam-macam rencana lainnya.
Senang rasanya melihat orang-orang begitu semangat membuat berbagai resolusi dan komitmen-komitmen spektakuler.
Lalu apa resolusi saya? Saya sama sekali tidak membuat resolusi apa-apa untuk tahun ini. Bukan berarti saya tidak semangat untuk menyambut tahun 2010 ini lho. Tapi saya memang sedang kehilangan ide kreatif untuk membuat resolusi. Menurut saya tahun ini banyak yang ingin saya capai. Namun karena saking banyaknya mungkin lebih baik tidak menargetkannya dan menjadikannya sebagai resolusi. Menjadikannya target hanya akan membuat saya fokus untuk mencapai hal-hal yang telah saya targetkan tadi. Padahal sebaiknya saya seyogyanya tidak memberi batasan pada hal-hal lain (non-targeted stuffs) yang juga sebaiknya saya capai di tahun ini.
Saya memandang tahun-tahun hidup saya dengan luapan rasa syukur yang luar biasa kepada Pencipta yang sudah begitu baik mencukupkan kebutuhan saya. Saya merasa tidak perlu meminta pun Sang Khalik sudah memberikannya dengan begitu banyak hal yang tidak saya duga. Karena itu saya lebih baik berserah kepada Dia karena dengan begitu saya tidak terbeban dengan target sasaran hidup yang akan membuat batin saya lelah. Saya percaya bahwa God selalu memberikan yang terbaik. Itu yang menjadikan saya lebih enteng menghadapi tahun ini.
Awal mula cukup hanya dengan sedikit doa dan ucapan syukur. Sisanya kita serahkan kepada-Nya untuk diselesaikan.
Masih tanggal 3 Januari, masih segar dan fresh untuk memulai sesuatu yang baru.
Beberapa teman saya sudah siap dengan berbagai komitmen dan tekad yang bulat (atau dibulat-bulatkan) dengan sebutan resolusi tahun 2010.
Ada yang membuat resolusi untuk menabung dan membatasi pengeluaran belanjanya; ada yang berjanji untuk rajin berolah raga membentuk otot dan membasmi lemak; ada yang komitmen untuk menjadi donatur yang rutin dalam kegiatan-kegiatan amal dan sosial; ada yang mau belajar mengemudi mobil; ada yang mau menikah, dan macam-macam rencana lainnya.
Senang rasanya melihat orang-orang begitu semangat membuat berbagai resolusi dan komitmen-komitmen spektakuler.
Lalu apa resolusi saya? Saya sama sekali tidak membuat resolusi apa-apa untuk tahun ini. Bukan berarti saya tidak semangat untuk menyambut tahun 2010 ini lho. Tapi saya memang sedang kehilangan ide kreatif untuk membuat resolusi. Menurut saya tahun ini banyak yang ingin saya capai. Namun karena saking banyaknya mungkin lebih baik tidak menargetkannya dan menjadikannya sebagai resolusi. Menjadikannya target hanya akan membuat saya fokus untuk mencapai hal-hal yang telah saya targetkan tadi. Padahal sebaiknya saya seyogyanya tidak memberi batasan pada hal-hal lain (non-targeted stuffs) yang juga sebaiknya saya capai di tahun ini.
Saya memandang tahun-tahun hidup saya dengan luapan rasa syukur yang luar biasa kepada Pencipta yang sudah begitu baik mencukupkan kebutuhan saya. Saya merasa tidak perlu meminta pun Sang Khalik sudah memberikannya dengan begitu banyak hal yang tidak saya duga. Karena itu saya lebih baik berserah kepada Dia karena dengan begitu saya tidak terbeban dengan target sasaran hidup yang akan membuat batin saya lelah. Saya percaya bahwa God selalu memberikan yang terbaik. Itu yang menjadikan saya lebih enteng menghadapi tahun ini.
Awal mula cukup hanya dengan sedikit doa dan ucapan syukur. Sisanya kita serahkan kepada-Nya untuk diselesaikan.
Friday, December 18, 2009
STUPID Uji Emisi :(
Beberapa hari yang lalu saya dengar iklan di radio tentang uji emisi kendaraan pribadi. Di iklan tersebut diberitakan bahwa pemda DKI akan mengeluarkan peraturan tentang uji emisi kendaraan pribadi. Semua kendaraan pribadi wajib melakukan uji emisi dan sesudahnya akan diberikan stiker yang mendadakan kendaraan tersebut lolos uji emisi. Nah, bagi kendaraan yang tidak punya stiker lolos uji maka tidak akan diperkenankan melewati area tertentu di Jakarta. Area tertentu tersebut adalah jalan-jalan utama di kota Jakarta such as; Thamrin, Sudirman, Menteng, Senayan, dsb...
Saya setuju dengan tujuan di-kampanye-kannya uji emisi oleh Pemerintah DKI. Pasti dimaksudkan supaya semua kendaraan yang lalu lalang di Jakarta ini tidak memperburuk tingkat pencemaran udara tidak sehat. Coba kalian perhatiin langit Jakarta saat cerah... pasti jarang keliatan tuh (atau nggak pernah terlihat lagi) awan-awan putih bak gula kapas arumanis yang berderet-deret. Yang ada langit Jakarta ini warnanya kelabu. Ini indikator bahwa langit di atas Jakarta dipenuhi sama polusi.
Tapi menurut saya uji emisi yang diselenggarakan ini sepertinya hanya akal-akalan untuk menilang, mendenda, dan sama sekali tidak tepat sasaran. Kenapa? Karena menurut saya semua kendaraan pribadi yang lalu lalang di Jakarta rata-rata kendaraan baru yang pembuangan asap knalpotnya masih bersih. Yang jadi masalah adalah kendaraan umumnya itu lhoo...
Saya yang setiap hari seliweran di Jakarta sama Miyoku (motor mio gue-red) ngerasain banget disembur knalpot sama kopaja, metromini, bajaj, bus kota dsb. Asap mereka hitaaam pekaat nyembur sana-sini, kalo kena baju putih baju itu pasti jadi keabu-abuan deh. Kebayang kan buat para pengendara motor mukanya bakal hitam-hitam kena asap knalpot kendaraan umum.
Soooo... bagi saya bukan kendaraan pribadi yang dicari-cari alasan untuk uji emisi en jadi ajang bisnis stiker lulus uji emisi, tapi coba dilihat dulu doonk itu bus kota sama metromini yang udah tidak layak edar diganti dengan kendaraan baru yang lebih nyaman dan pembuangannya bersih. Percuma kan bikin aturan dengan tujuan menciptakan udara Jakarta sehat tapi bus kota cumi-cumi nya masih merajalela di Jakarta.
Haduuuh bikin peraturan dan kebijakan koq nggak sekalian yang efektif gitu lhoo.
STUPID uji emisi
:(
Saya setuju dengan tujuan di-kampanye-kannya uji emisi oleh Pemerintah DKI. Pasti dimaksudkan supaya semua kendaraan yang lalu lalang di Jakarta ini tidak memperburuk tingkat pencemaran udara tidak sehat. Coba kalian perhatiin langit Jakarta saat cerah... pasti jarang keliatan tuh (atau nggak pernah terlihat lagi) awan-awan putih bak gula kapas arumanis yang berderet-deret. Yang ada langit Jakarta ini warnanya kelabu. Ini indikator bahwa langit di atas Jakarta dipenuhi sama polusi.
Tapi menurut saya uji emisi yang diselenggarakan ini sepertinya hanya akal-akalan untuk menilang, mendenda, dan sama sekali tidak tepat sasaran. Kenapa? Karena menurut saya semua kendaraan pribadi yang lalu lalang di Jakarta rata-rata kendaraan baru yang pembuangan asap knalpotnya masih bersih. Yang jadi masalah adalah kendaraan umumnya itu lhoo...
Saya yang setiap hari seliweran di Jakarta sama Miyoku (motor mio gue-red) ngerasain banget disembur knalpot sama kopaja, metromini, bajaj, bus kota dsb. Asap mereka hitaaam pekaat nyembur sana-sini, kalo kena baju putih baju itu pasti jadi keabu-abuan deh. Kebayang kan buat para pengendara motor mukanya bakal hitam-hitam kena asap knalpot kendaraan umum.
Soooo... bagi saya bukan kendaraan pribadi yang dicari-cari alasan untuk uji emisi en jadi ajang bisnis stiker lulus uji emisi, tapi coba dilihat dulu doonk itu bus kota sama metromini yang udah tidak layak edar diganti dengan kendaraan baru yang lebih nyaman dan pembuangannya bersih. Percuma kan bikin aturan dengan tujuan menciptakan udara Jakarta sehat tapi bus kota cumi-cumi nya masih merajalela di Jakarta.
Haduuuh bikin peraturan dan kebijakan koq nggak sekalian yang efektif gitu lhoo.
STUPID uji emisi
:(
Subscribe to:
Posts (Atom)




